Sebuah pesan singkat masuk ke Hand Phoneku, isinya sebuah pesan dari layanan Al Qur’an seluler yang saat itu aku langganin. Bunyinya kira – kira begini :” Kesehatan, kekayaan dan segala kumudahannya adalah cobaan yang lebih berat daripada kemiskinan, penyakit ataupun kesusahan itu sendiri, karena saat kita miskin, sakit atau susah kita lebih cenderung untuk mengingatNya dibanding saat kita kaya, sehat atau saat menemui kemudahan .” Filosofi ini sering berseberangan dengan pandangan sebagian besar kita, yang sering tanpa sadar merasa bahwa orang yang sehat atau kaya (senang) adalah orang yang lebih disayang Tuhan dibanding orang – orang yang miskin maupun sakit (susah).
Berkaitan dengan pesan di atas aku langsung dapat pembuktiannya beberapa saat kemudian, begini ceritanya :
Sebagai orang yang bekerja dan tinggal di kebun, hari Sabtu adalah saat yang sangat ditunggu – tunggu, karena di hari Sabtulah datang kesempatan untuk pergi ke kota, kesempatan untuk bertemu keluarga dan meninggalkan (walau untuk sementara waktu) rutinitas dan kesunyian hidup di kebun. Saat aku terima sms itu, masih jam delapan pagi, masih harus menunggu lima jam lagi untuk bisa pergi ke kota. Jarak antara kebun dan kota memang hanya ± 60 Km saja, tetapi medan yang harus kutempuh adalah jalan tanah liat yang berbatu, yang masih agak susah untuk dilalui dengan sepeda motor, apalagi saat musim hujan.
Singkat cerita, sampailah waktu yang kutunggu - tunggu, jam dua belas siang, waktu untuk pulang ke kota… Tapi sayangnya hujan deras mengguyur semua areal perkebunan, itu artinya akan semakin susah dan melelahkan perjalananku ke kota. Karena guyuran hujan itu berarti jalan menjadi licin, becek dan lengket. Untuk pengendara sepeda motor sepertiku cuman ada beberapa pilihan ketika melakukan perjalanan dari kebun ke kota. Jika musim kemarau perjalananku akan ditemani dengan debu dan ancaman jatuh karena serakan batu (jika aku kurang berhati – hati dalam berkendara). Sedangkan jika musim hujan, pilihannya adalah roda sepeda motor Mega Proku akan lengket tak bisa berputar atau aku jatuh terjerebab karena licinnya tanah liat yang kulalui…. Namun demikian, pengalaman dan jam terbang selama 4 tahun telah mengajarkan kepadaku kiat – kiat untuk mengatasi hambatan itu.
Akhirnya dengan sangat berhati – hati, siraman hujan yang jadi penghalangku tetap kuterjang. Lengketnya lumpur kusiasati dengan melepas sayap roda depan dan mengikat tali pada beberapa bagian roda, sedangkan licinnya jalan dapat dijinakkan dengan berkendara secara waspada pada kecepatan rendah. Tidak lupa sepanjang perjalanan hatiku selalu berdoa kepadaNya mohon diberi keselamatan. Dengan metoda seperti itu selamatlah aku dari halangan terbesar yang ditimbulkan oleh siraman hujan, sehingga akhirnya tinggal jalan aspal beberapa kilometer yang tersisa sebelum sampai ke kota. Di jalan aspal itulah seolah aku sudah terbebas dari halangan besar yang menyulitkanku, kupacu sepeda motorku, sehingga tanpa sadar aku lupa untuk tetap berhati – hati dan berdoa kepadaNya, seperti yang sudah kulakukan beberapa waktu sebelumnya. Tiba – tiba…… Grubakkk!!!! Aku terjatuh dari sepeda motorku, tanpa aku tahu penyebabnya…. Rupanya rasa senangku yang berlebihan, telah membuatku lupa akan apa yang seharusnya tetap kulakukan ketika berkendara… hati – hati dan berdoa…
Saat aku masih terjerebab di aspal, dengan luka yang mulai kurasakan sakitnya, aku teringat dengan pesan singkat yang kuterima tadi pagi…. Seketika aku terhenyak, ketika kusadari kalau kejadian yang baru kualami adalah bukti kongkrit kebenaran isi pesan itu… Ya!! saat aku susah di jalan tanah yang licin, lengket dan becek, aku sangat berhati – hati dan selalu berdoa padaNya, tapi saat aku merasa mudah ketika berkendara di jalan aspal yang halus, aku terlupa untuk tetap berhati – hati, aku terlupa pada doaku padaNya…
Selasa, 18 November 2008
Selasa, 11 November 2008
Seberapa Besar Kamar Mandi di Rumah Kita???
Ini sekedar pengalaman kecil yang aku temui beberapa tahun yang lalu. Sebuah usulan sederhana dari orang tuaku, saat aku diberi kesempatan olehNya untuk sedikit merenovasi rumah kecilku. Walau hanya sekedar usulan, namun kurasakan sebagai sebuah pendapat bijak yang sarat makna…
Usulan ini menyangkut ukuran kamar mandi yang akan dibuat, beliau mengusulkan agar kamar mandi yang akan dibangun ukurannya agak diperbesar, sehingga memungkinkan tubuh kita untuk berbaring di dalamnya dan itupun masih harus menyisakan sedikit ruang di dalamnya.
Waktu itu aku tidak sependapat dengan usulnya, bukankan akan menambah biaya? Lagipula ukuran lebih itu bisa dimanfaatkan untuk ruang lainnya? Ketidaksetujuanku akhirnya luluh setelah kudapat penjelasannya. Begini alasannya : “Kamar mandi itu fungsinya untuk membersihkan diri kita, nah itu juga harus bisa digunakan saat kita dimandikan nanti”. Lanjut beliau, “Jangan sampai terjadi, saat kita masih kidup, kita mandi di kamar mandi, tapi saat kita mati, kita dimandikan di halaman rumah yang ditutupi/dibatasi dengan kain.”
Aku begitu terkesima atas penjelasan itu….. sebuah usulan sederhana yang keluar dari sebuah kesadaran tinggi tentang hakikat perjalanan hidup manusia. Tanpa perlu berpikir dua kali, kulakukan apa yang jadi usulan beliau….
Usulan ini menyangkut ukuran kamar mandi yang akan dibuat, beliau mengusulkan agar kamar mandi yang akan dibangun ukurannya agak diperbesar, sehingga memungkinkan tubuh kita untuk berbaring di dalamnya dan itupun masih harus menyisakan sedikit ruang di dalamnya.
Waktu itu aku tidak sependapat dengan usulnya, bukankan akan menambah biaya? Lagipula ukuran lebih itu bisa dimanfaatkan untuk ruang lainnya? Ketidaksetujuanku akhirnya luluh setelah kudapat penjelasannya. Begini alasannya : “Kamar mandi itu fungsinya untuk membersihkan diri kita, nah itu juga harus bisa digunakan saat kita dimandikan nanti”. Lanjut beliau, “Jangan sampai terjadi, saat kita masih kidup, kita mandi di kamar mandi, tapi saat kita mati, kita dimandikan di halaman rumah yang ditutupi/dibatasi dengan kain.”
Aku begitu terkesima atas penjelasan itu….. sebuah usulan sederhana yang keluar dari sebuah kesadaran tinggi tentang hakikat perjalanan hidup manusia. Tanpa perlu berpikir dua kali, kulakukan apa yang jadi usulan beliau….
Sabtu, 08 November 2008
Sebuah Nasihat Dari Orang Bijak...
Ini sekedar tulisan atas sesuatu yang pernah aku dengar, yang kemudian aku renungkan dan kurasa perlu untuk diamalkan...
Sesuatu itu tentang kehidupan kita, orang - orang jaman sekarang (baca : modern), yang dalam kesehariannya cenderung terlalu sibuk menjalani rutinitas, sehingga kadang terlupa untuk mengingat tempat kita nanti akan dikuburkan, jika kita mati nanti...
Sesuatu itu ada di sekeliling kita, selalu kita injak - injak, tapi seolah kita takut untuk menyentuhnya secara langsung dengan telapak kaki kita, dengan kulit kita..
Fenomena itu dapat kita amati di kota - kota besar, di kompleks - kompleks perumahan juga di tempat publik lainnya. Ini terjadi karena orang jaman sekarang, cenderung menutup sisa halaman yang ada dengan paving blok, dengan tegel, atau minimal dengan semen, sehingga tidak ada tanah yang tersisa, walau hanya sejengkal untuk kita injak.
Kita seolah takut, kaki kita, kulit kita, jadi kotor jika menginjak atau menyentuhnya. Padahal ke dalam tanah, kita akan dikuburkan kelak. Jadi tak ada salahnya, jika pada sedikit waktu luang yang ada, kita sempatkan untuk menyentuhkan kulit kita pada tanah, sekedar untuk mengingatkan bahwa kesanalah nanti jasad kita akan kembali....
Selasa, 04 November 2008
Puisi Kado Pernikahan
Aku dapat puisi ini kurang lebih 4 tahun lalu, saat pernikahanku, kado dari kawan baikku "Dwi Rahmadi", yang dikirim via sms... Aku nggak tahu sumber aslinya dari mana, namun demikian aku perlu minta ijin pada pengarang aslinya untuk menampilkannya di Blog ini. Meski hanya beberapa rangkaian kata, namun isinya sarat makna dan akan sangat berarti sebagai bahan renungan para calon pengantin. Begini isinya :
Dalam simpuh aku berpeluh
oh.... Tuhan, sampaikan salam tuk
kekasih di rona haribaan
kemudian.
dalam tengadah aku berkesah
mencium wangi peraduan
di sela - sela senandung malam dan
gemerlap cahaya bintang.
dalam setiap desah dan helaan napas
aku menyimpan asa
semoga sebuah akad mulia
terisi bait ijabah sakinah,
mawadah dan warohmah.
Dalam simpuh aku berpeluh
oh.... Tuhan, sampaikan salam tuk
kekasih di rona haribaan
kemudian.
dalam tengadah aku berkesah
mencium wangi peraduan
di sela - sela senandung malam dan
gemerlap cahaya bintang.
dalam setiap desah dan helaan napas
aku menyimpan asa
semoga sebuah akad mulia
terisi bait ijabah sakinah,
mawadah dan warohmah.
Senin, 20 Oktober 2008
Tulisan Pak Dahlan Iskan
Tulisan ini kudapat dari milis, tulisan pak Dahlan Iskan, orang nomor 1 di Jawa Post Group, beliau menjelaskan dengan sangat gamblang krisis subprime di USA yang menyeret ke arah krisis ekonomi global dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dimengerti. Mohon ijin pada pak Dahlan untuk menampilkannya di blog saya.
Krisis Subprime di Amerika Serikat, Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan (owner Jawa Pos Group)
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target.Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima paraCEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik.Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar didunia: USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja sepertiKPR, meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti diSwedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya.Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampirUSD 700 miliar setahun.
Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untukmembeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah punbisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi,tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.
Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidakpernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaandan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah''personal banking''.
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yangmenawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana ,saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage,yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.
Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyakorang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu,USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' - kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun,yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)
Krisis Subprime di Amerika Serikat, Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan (owner Jawa Pos Group)
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya''menceritakan' ' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target.Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima paraCEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik.Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar didunia: USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''. Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja sepertiKPR, meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup.Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti diSwedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya.Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampirUSD 700 miliar setahun.
Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untukmembeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah punbisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi,tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.
Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidakpernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaandan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah''personal banking''.
Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yangmenawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana ,saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage,yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.
Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.
Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.
Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyakorang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.
Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu,USD 700 miliar lagi?
Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.
Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' - kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.
Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun,yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)
Perilaku Koruptif di Sekeliling Kita
Salah satu penyebab utama rusaknya negeri tercinta ini adalah korupsi, menurut berbagai referensi yang bisa kita baca di buku maupun media, korupsi bagaikan virus yang samar bahkan hampir tidak tampak proses kerjanya tapi menimbulkan efek kerusakan yang luar biasa dahsyat. Salah satu kerusakan terparah yang ditimbulkan dari korupsi ini adalah mental (baca : kondisi kejiwaan) dari sang pelaku, karena dia benar – benar sudah tertutup hatinya, sehingga menganggap hal buruk dan tercela yang dikerjakannya adalah suatu yang biasa dan halal hukumnya. Sudah barang tentu kerusakan – kerusakan lainnya adalah kerusakan yang bersifat fisik, karena program atau project pekerjaan yang dikorupsi kualitas maupun kuantitasnya menurun dari standar yang digariskan, mengingat dananya sudah disunat dari yang seharusnya. Namun aku tidak ingin berpanjang lebar menulis tentang teori korupsi, karena selain tidak menguasai secara dalam, juga ada hal lain yang bisa aku gambarkan dengan lebih jelas dengan tulisan ini.
Sangat banyak berita tentang kasus – kasus korupsi yang diekspos media masa saat ini, terutama setelah KPK terbentuk dan giat menunjukkan taringnya… Namun demikian, jika kita perhatikan, sebenarnya perilaku koruptif sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari di sekitar kita, bahkan tanpa kita sadari kita sering jadi korban dari perilaku itu atau kita yang jadi pelakunya???
Begini liputan selengkapnya….
Saat mudik lebaran kemarin, kebetulan aku dan keluargaku menggunakan mobil sendiri sebagai moda transportasinya untuk menempuh jarak dari Pekanbaru (Riau) sampai Cilacap (Jawa Tengah), selain alasan mahalnya tiket pesawat yang tidak terbeli saat itu, juga sekaligus untuk tamasya keluarga di sepanjang perjalanan. Perjalanan ini melintasi propinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan tapi juga mengasyikkan jika kita bisa menikmatinya…
Nah dalam rentang jarak ribuan kilometer itulah aku iseng – iseng mengamati perilaku koruptif di keseharian kita yang jarang kita sadari atau kita sadari tapi kita anggap tak ada. Aku yakin hal ini sering kita jumpai bersama di sekeliling kita, tapi sample yang aku dapat sungguh mengasyikkan, karena meliputi 7 propinsi di Indonesia. Sample itu adalah saat kita melakukan pengisian BBM di SPBU, karena dalam perjalanan kami ini, total jenderal ada 19 kali melakukan pengisian SPBU.
Di SPBU yang sudah mendapat sertifikasi dari Pertamina akan tertulis slogan :
“Tepat takarannya, tepat kembaliannya dan tepat pelayanannya”, nah pada kasus ini aku mengamati item tepat kembaliannya, karena disini perilaku koruptif yang paling mudah dilihat. Ini terutama buat konsumen yang mengisi BBM mobil atau motornya full tank. Modus operandinya adalah :
Petugas SPBU akan terus mengisi/mengalirkan BBM ketika tangki kendaraan sudah mulai penuh, walau angka rupiahnya sudah bulat, misal : Rp. 20.000, Rp. 100.000 atau lainnya. Tujuannya adalah agar nilai rupiah yang tertera di meteran mempunyai pecahan ratusan menjadi Rp. 20.300, Rp. 100.600 atau lainnya. Dengan dalih tidak ada uang kembalian sebesar Rp. 700 atau Rp. 400 seperti pada kasus di atas, konsumen “dipaksa” membayar dengan pembulatan ke atas menjadi Rp. 21.000 atau Rp. 101.000.
Perilaku di atas ternyata seolah – olah sudah menjadi trend dan dianggap biasa di hampir semua SPBU yang kusinggahi. Hal itu tentunya merupakan suatu perilaku koruptif yang terang – terangan dan sangat merugikan konsumen. Nilainya memang tidak seberapa untuk tiap – tiap konsumen, tetapi coba kalikan berapa konsumen yang mengalami hal tersebut setiap harinya, setiap minggunya, setiap bulannya bahkan setiap tahunnya…. Pasti jumlahnya bukanlah sedikit. Mungkin cukup untuk membantu biaya berobat keluarga miskin atau membantu biaya sekolah anak – anak terlantar di suatu daerah.
Terlepas dari semua itu, mental dari pekerja – pekerja SPBU yang melakukan hal itu menjadi terlatih untuk tidak jujur dari hari ke hari, dan itu akan terbawa dalam pola keseharian hidup mereka…
Rasanya perlu ada langkah sistematis dari semua pihak untuk bisa mengatasi hal tersebut di atas, karena masih sangat banyak modus korupsi seperti tersebut di atas yang dilakukan di area – area lain di luar SPBU…. Anda punya jawabannya???
Sangat banyak berita tentang kasus – kasus korupsi yang diekspos media masa saat ini, terutama setelah KPK terbentuk dan giat menunjukkan taringnya… Namun demikian, jika kita perhatikan, sebenarnya perilaku koruptif sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari di sekitar kita, bahkan tanpa kita sadari kita sering jadi korban dari perilaku itu atau kita yang jadi pelakunya???
Begini liputan selengkapnya….
Saat mudik lebaran kemarin, kebetulan aku dan keluargaku menggunakan mobil sendiri sebagai moda transportasinya untuk menempuh jarak dari Pekanbaru (Riau) sampai Cilacap (Jawa Tengah), selain alasan mahalnya tiket pesawat yang tidak terbeli saat itu, juga sekaligus untuk tamasya keluarga di sepanjang perjalanan. Perjalanan ini melintasi propinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan tapi juga mengasyikkan jika kita bisa menikmatinya…
Nah dalam rentang jarak ribuan kilometer itulah aku iseng – iseng mengamati perilaku koruptif di keseharian kita yang jarang kita sadari atau kita sadari tapi kita anggap tak ada. Aku yakin hal ini sering kita jumpai bersama di sekeliling kita, tapi sample yang aku dapat sungguh mengasyikkan, karena meliputi 7 propinsi di Indonesia. Sample itu adalah saat kita melakukan pengisian BBM di SPBU, karena dalam perjalanan kami ini, total jenderal ada 19 kali melakukan pengisian SPBU.
Di SPBU yang sudah mendapat sertifikasi dari Pertamina akan tertulis slogan :
“Tepat takarannya, tepat kembaliannya dan tepat pelayanannya”, nah pada kasus ini aku mengamati item tepat kembaliannya, karena disini perilaku koruptif yang paling mudah dilihat. Ini terutama buat konsumen yang mengisi BBM mobil atau motornya full tank. Modus operandinya adalah :
Petugas SPBU akan terus mengisi/mengalirkan BBM ketika tangki kendaraan sudah mulai penuh, walau angka rupiahnya sudah bulat, misal : Rp. 20.000, Rp. 100.000 atau lainnya. Tujuannya adalah agar nilai rupiah yang tertera di meteran mempunyai pecahan ratusan menjadi Rp. 20.300, Rp. 100.600 atau lainnya. Dengan dalih tidak ada uang kembalian sebesar Rp. 700 atau Rp. 400 seperti pada kasus di atas, konsumen “dipaksa” membayar dengan pembulatan ke atas menjadi Rp. 21.000 atau Rp. 101.000.
Perilaku di atas ternyata seolah – olah sudah menjadi trend dan dianggap biasa di hampir semua SPBU yang kusinggahi. Hal itu tentunya merupakan suatu perilaku koruptif yang terang – terangan dan sangat merugikan konsumen. Nilainya memang tidak seberapa untuk tiap – tiap konsumen, tetapi coba kalikan berapa konsumen yang mengalami hal tersebut setiap harinya, setiap minggunya, setiap bulannya bahkan setiap tahunnya…. Pasti jumlahnya bukanlah sedikit. Mungkin cukup untuk membantu biaya berobat keluarga miskin atau membantu biaya sekolah anak – anak terlantar di suatu daerah.
Terlepas dari semua itu, mental dari pekerja – pekerja SPBU yang melakukan hal itu menjadi terlatih untuk tidak jujur dari hari ke hari, dan itu akan terbawa dalam pola keseharian hidup mereka…
Rasanya perlu ada langkah sistematis dari semua pihak untuk bisa mengatasi hal tersebut di atas, karena masih sangat banyak modus korupsi seperti tersebut di atas yang dilakukan di area – area lain di luar SPBU…. Anda punya jawabannya???
Rabu, 24 September 2008
Fenomena Pilkada Sumsel
Tanggal 4 September 2008 yang lalu, Sumatra Selatan mengadakan pemilihan kepala daerah (gubernur) secara langsung. Ini adalah pilkada langsung yang pertama di daerah itu. Pilkada ini akhirnya dimenangkan oleh pasangan Alex Noerdin - Edi Yusuf, setelah menang tipis atas pasangan Syahrial Oesman - Helmi Yahya. Walaupun hasil keputusan KPUD Sumsel mendapat tantangan berupa demo besar - besaran dari pendukung pasangan calon yang kalah, tapi itulah hasil dari sebuah proses demokrasi, yang harus disikapi secara bijaksana dan kepala dingin...
Aku tergelitik untuk sedikit menulis tentang hal ini mengingat fenomena pilihan antara 2 pasangan calo yang harus dipilih oleh masyarakat Sumsel, tentunya ini hanya sekedar pandangan pribadiku, yang hanya mendasarkan atas pengalamanku yang sering berkunjung ke Sumsel (khususnya di Muba), bargaul dengan teman - teman di sana dan membaca koran daerah Sumsel.... Jadi tidak bisa dijadikan untuk acuan apapun dan ditulis tanpa pretensi apapun...
Syahrial Oesman dikenal oleh masyarakat Sumsel sebagai gubernur sipil yang berhasil membangun dan membuat aman propinsi Sumatra Selatan. Alumni Universitas Sriwijaya ini memimpin Sumsel dalam periode 2003 - 2008. Dulu, sebelum pak Syahrial menjabat kesan angker selalu dirasakan oleh hampir sebagian besar orang non Sumsel jika berkunjung atau bahkan sekedar melintas propinsi Sumatra Selatan. Ini diperkuat dengan karakter masyarakat Sumsel yang memang 'keras'. Jadi harus hati - hati kalau ke sana.... Walaupun sesungguhnya sikap hati - hati harus tetap kita pelihara dimanapun kita berada. Selain aman, pak Syahrial juga berhasil membangun Sumsel dalam banyak bidang, seperti : pendidikan, kesehatan, pertanian, infrastruktur jalan, industri dll termasuk bidang olahraga yang ditandai dengan suksesnya PON XVII (???) di Sumsel dan Sriwijaya FC, klub sepakbola asal kota Palembang yang berhasil mendapat double winner di kancah sepakbola Indonesia. Singkatnya beliau termasuk pemimpin Sumsel yang berhasil....
Alex Noerdin adalah alumni ITB yang dikenal sebagai bupati kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang fenomenal. Saat ikut pilkada gubernur kemarin, dia belum lama menjabat untuk yang kedua kalinya sebagai Bupati Muba. Gebrakannya saat menjabat sungguh hebat kalau boleh dikatakan luar biasa. Pak Alex adalah bupati pelopor pendidikan dan berobat gratis di kabupaten Muba (mungkin yang pertama di Indonesia ???) dan program itu bisa dikatakan berhasil. Kabupaten Muba yang dulu terbelakang dan sangat tidak aman, ditangannya menjadi sangat maju dan relatif aman, jalan - jalan yang dahulu rusak dan banyak lubang jadi lebar dan teraspal licin, dan itu tembus sampai ke pelosok Muba. Sekolah di Muba dari SD sampai SMU gratis dengan gedung dan sarana pendidikan memadai, rumah sakit dan puskesmas tersedia dan relatif cukup merata di pelosok kabupaten, dengan layanan gratis. Selain itu iklim investasi juga relatif kondusif di sana, sehingga industri mulai dari migas sampai pertanian dapat operasional secara normal, sehingga geliat ekonomi di kabupaten ini benar - benar terasa denyutnya..... Singkat kata (sekali lagi menurut pandangan pribadiku...), pak Alex juga figur pemimpin yang berhasil dan dapat diandalkan....
Terlepas dari black campaign yang dilancarkan oleh kedua kubu tim sukses pada saat kampanye lalu, rakyat Sumsel dihadapkan pada dua pilihan yang sama - sama nyaman untuk dipilih. Mereka punya calon - calon pemimpin yang sudah teruji mampu memimpin dan berkomitmen penuh untuk membangun masyarakat dan daerah Sumsel. Jadi terlepas dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, bersyukurlah saudara - saudaraku di Sumsel sana atas dua pilihan yang ada.... Gak perlu lagi saling adu mulut apalagi adu tinju untuk menjatuhkan satu sama lain. Ayo maju bersama, bahu membahu membangun negeri ini. Indonesia tercinta sudah terlalu lama menderita.....
Aku tergelitik untuk sedikit menulis tentang hal ini mengingat fenomena pilihan antara 2 pasangan calo yang harus dipilih oleh masyarakat Sumsel, tentunya ini hanya sekedar pandangan pribadiku, yang hanya mendasarkan atas pengalamanku yang sering berkunjung ke Sumsel (khususnya di Muba), bargaul dengan teman - teman di sana dan membaca koran daerah Sumsel.... Jadi tidak bisa dijadikan untuk acuan apapun dan ditulis tanpa pretensi apapun...
Syahrial Oesman dikenal oleh masyarakat Sumsel sebagai gubernur sipil yang berhasil membangun dan membuat aman propinsi Sumatra Selatan. Alumni Universitas Sriwijaya ini memimpin Sumsel dalam periode 2003 - 2008. Dulu, sebelum pak Syahrial menjabat kesan angker selalu dirasakan oleh hampir sebagian besar orang non Sumsel jika berkunjung atau bahkan sekedar melintas propinsi Sumatra Selatan. Ini diperkuat dengan karakter masyarakat Sumsel yang memang 'keras'. Jadi harus hati - hati kalau ke sana.... Walaupun sesungguhnya sikap hati - hati harus tetap kita pelihara dimanapun kita berada. Selain aman, pak Syahrial juga berhasil membangun Sumsel dalam banyak bidang, seperti : pendidikan, kesehatan, pertanian, infrastruktur jalan, industri dll termasuk bidang olahraga yang ditandai dengan suksesnya PON XVII (???) di Sumsel dan Sriwijaya FC, klub sepakbola asal kota Palembang yang berhasil mendapat double winner di kancah sepakbola Indonesia. Singkatnya beliau termasuk pemimpin Sumsel yang berhasil....
Alex Noerdin adalah alumni ITB yang dikenal sebagai bupati kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang fenomenal. Saat ikut pilkada gubernur kemarin, dia belum lama menjabat untuk yang kedua kalinya sebagai Bupati Muba. Gebrakannya saat menjabat sungguh hebat kalau boleh dikatakan luar biasa. Pak Alex adalah bupati pelopor pendidikan dan berobat gratis di kabupaten Muba (mungkin yang pertama di Indonesia ???) dan program itu bisa dikatakan berhasil. Kabupaten Muba yang dulu terbelakang dan sangat tidak aman, ditangannya menjadi sangat maju dan relatif aman, jalan - jalan yang dahulu rusak dan banyak lubang jadi lebar dan teraspal licin, dan itu tembus sampai ke pelosok Muba. Sekolah di Muba dari SD sampai SMU gratis dengan gedung dan sarana pendidikan memadai, rumah sakit dan puskesmas tersedia dan relatif cukup merata di pelosok kabupaten, dengan layanan gratis. Selain itu iklim investasi juga relatif kondusif di sana, sehingga industri mulai dari migas sampai pertanian dapat operasional secara normal, sehingga geliat ekonomi di kabupaten ini benar - benar terasa denyutnya..... Singkat kata (sekali lagi menurut pandangan pribadiku...), pak Alex juga figur pemimpin yang berhasil dan dapat diandalkan....
Terlepas dari black campaign yang dilancarkan oleh kedua kubu tim sukses pada saat kampanye lalu, rakyat Sumsel dihadapkan pada dua pilihan yang sama - sama nyaman untuk dipilih. Mereka punya calon - calon pemimpin yang sudah teruji mampu memimpin dan berkomitmen penuh untuk membangun masyarakat dan daerah Sumsel. Jadi terlepas dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, bersyukurlah saudara - saudaraku di Sumsel sana atas dua pilihan yang ada.... Gak perlu lagi saling adu mulut apalagi adu tinju untuk menjatuhkan satu sama lain. Ayo maju bersama, bahu membahu membangun negeri ini. Indonesia tercinta sudah terlalu lama menderita.....
Langganan:
Postingan (Atom)